Pariwara

Followers

Apa?! Berubah Lagi?!

Posted by Yonatan Adi on 2:22 PM

"Apa?! Kok berubah lagi sih?!"

Setiap kali selesai ada gashuku (semacam latihan bersama), pertanyaan seperti inilah yang paling sering saya dengar dari para kohai saya. Mereka selalu bertanya kenapa teknik yang saya ajarkan dalam latihan (sedikit) berbeda dengan teknik yang mereka dapatkan dalam gashuku. Mereka juga heran kenapa teknik-teknik tersebut seolah-olah selalu berubah dari satu gashuku ke gashuku berikutnya.

Dan inilah yang menjadi jawaban saya...

Dalam seni beladiri, setiap gerakan (entah itu kihon, jurus, maupun waza) dari masing-masing orang tidak mungkin akan sama persis. Akan tetapi, kendati "bentuk" dari gerakan-gerakan tersebut sedikit berbeda antara satu orang dengan yang lain, "prinsip" dibalik gerakan-gerakan itu akan selalu tetap sama.

Kenapa bisa begitu, Anda bertanya?

Karena postur (ukuran, kekuatan, kelincahan, dsb) tubuh dari setiap orang tidak ada yang sama. Bentuk atau cara tertentu yang berhasil (bisa menghindar dari serangan, bisa melepaskan diri dari pegangan, bisa melakukan bantingan, dan sebagainya) dilakukan oleh satu orang belum tentu akan berhasil pula kalau dilakukan oleh orang lain.

Misalnya nih, ada seseorang yang berhasil mengaplikasikan teknik 'uchi uke zuki' dengan cara melakukan chidori ashi (atau fumi komi ashi), tetapi ada pula yang berhasil mengaplikasikan teknik tersebut hanya dengan sedikit memindahkan kepala dan badannya (furimi) saja.

"Tuh kan beda."

Sekilas memang terlihat berbeda tapi sebenarnya sama saja.

Photo credit: hamiltonjch
Kok bisa sama? lha wong yang satu furimi dan yang satunya lagi chidori ashi kok.

Perkenalkan shu - ha - ri

Di dalam seni beladiri Jepang, terdapat sebuah konsep yang disebut dengan shu - ha - ri. Shu - ha - ri yang bisa dijelaskan dengan tiga (empat) kata: "mengikuti - mengubah - membuat baru" ini adalah sebuah konsep yang menjelaskan urut-urutan dari proses latihan seni beladiri.

Shu - ha - ri (tentu saja) terdiri atas 3 tahapan yaitu shu, ha, dan ri.

'Shu' berarti mengikuti

Dalam tahap 'shu' seseorang berlatih beladiri dengan cara menirukan setiap gerakan ataupun teknik yang diajarkan kepadanya, semakin mirip semakin baik. Tujuan dari tahap ini adalah membuat tubuh kita hafal dengan gerakan-gerakan tersebut.

'Ha' berarti mengubah

Dalam perkembangannya, seseorang mulai menyesuaikan gerakan-gerakan tersebut dengan pembawaan dan postur tubuhnya. Tentu saja untuk melakukannya dibutuhkan pemahaman prinsip dari gerakan-gerakan yang akan kita 'ubah' itu.

'Ri' berarti membuat baru

Dalam tahap ini seseorang mulai menciptakan gerakan atau teknik 'baru' dengan cara mengurangi, menambah, ataupun menghilangkan beberapa unsur dari gerakan ataupun teknik-teknik yang sudah dipelajarinya (tentu saja dengan tidak meninggalkan pakemnya) sehingga terciptalah gerakan atau teknik 'baru' yang khas bagi orang tersebut.


Yang perlu diingat, konsep shu - ha - ri ini tidak ada hubungannya dengan tingkatan seseorang dalam seni beladiri yang bersangkutan. Bukan berarti seorang minarai pasti berada di tahap 'shu', atau seorang shodan pasti sudah mencapai tahap 'ri'. Konsep shu - ha - ri akan selalu ada di setiap tingkatan. Misalnya nih Anda baru saja naik ke tingkat nidan (2 Dan), tentu saja untuk mulai mempelajari gerakan ataupun teknik di tingkatan baru ini, Anda harus kembali lagi ke tahap 'shu'; tetapi tentunya Anda sudah mencapai tahap 'ri' untuk gerakan dan teknik di tingkatan sebelumnya (shodan/ 1 Dan).

Karena pembawaan, postur tubuh, dan pemahaman setiap orang pastilah tidak sama, gerakan atau teknik dari dua orang (dengan tingkatan yang sama) yang telah mencapai tahap 'ri' pasti juga tidak akan sama, tetapi sekali lagi prinsip dan pakem dari gerakan atau teknik tersebut tidak mengalami perubahan sedikitpun.

Kita ambil contoh teknik 'uchi uke zuki' di atas. Meskipun ada yang mengaplikasikan teknik tersebut dengan melakukan furimi dan ada pula yang mengaplikasikannya dengan melakukan chidori ashi (atau fumi komi ashi), prinsip dari teknik tersebut yaitu "menghindar ke sisi luar lawan sambil menangkis (baca: mengubah arah) serangan jodan zuki lawan (dengan tangkisan jun uchi uke) menjauh dari tubuh kita dan melakukan serangan balik (gyaku zuki) ke arah tulang rusuk" tetaplah sama.


Itulah sebabnya di setiap gashuku (apalagi kalau sensei-nya selalu berganti-ganti) pasti akan ditemukan 'perubahan' dari teknik atau gerakan yang sudah kita pelajari sebelumnya. Meskipun ada 'perubahan', bukan berarti teknik ataupun gerakan tersebut berubah sepenuhnya, yang berubah hanyalah cara atau bentuknya saja, sedangkan prinsip dari gerakan atau teknik tersebut tidak mengalami perubahan.

Cara/ bentuk boleh beda, tetapi prinsip tetap sama. Itulah mengapa beladiri disebut seni dan bukan ilmu.

Lantas apa yang harus kita lakukan?

Tentu saja kita harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sensei yang saat itu sedang melatih kita. Dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh sensei yang melatih kita saat itu--yang mungkin 'berbeda' dengan apa yang diajarkan oleh sensei yang melatih kita di gashuku sebelumnya--(1)kita menghormati sensei yang notabene adalah atasan kita, dan (2)kita akan mendapatkan cara baru untuk mengaplikasikan satu gerakan atau satu teknik beladiri yang sama.


Karena itu, alih-alih berpikir sampai pusing "Apa?! berubah lagi?!" akan lebih baik kalau kita berpikir "Asyiik, dapat cara baru lagi."


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 2:22 PM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape
Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB