Pariwara

Followers

Kenapa Seni Beladiri Disebut... "Seni Beladiri"?

Posted by Yonatan Adi on 2:00 PM

Beberapa hari yang lalu, saya sedikit ngobrol dengan salah seorang keponakan saya yang baru duduk di kelas 7 (atau yang 20 tahun yang lalu lebih dikenal sebagai kelas 1 SMP... jadi merasa tua), anyway... keponakan saya tersebut dengan kepolosannya mengajukan pertanyaan sebagai berikut: "Oom (sekali lagi jadi merasa tua), kenapa beladiri itu disebut seni beladiri, bukan ilmu beladiri?" (kebetulan keponakan saya ini bukan seorang yang awam dengan beladiri karena sewaktu masih kelas 3 SD, dia pernah berlatih seni beladiri Shorinji kempo di dojo saya).

Sebelum menjawab pertanyaannya itu, saya balik bertanya kepada keponakan saya tersebut: "Kenapa melukis disebut seni, bukan ilmu melukis?", dengan polos dia menjawab: "Ya karena itu memang seni oom".

Saya kemudian menjelaskan (dengan bahasa yang dipahami oleh anak seusianya tentu saja): "Melukis disebut seni karena dua orang pelukis yang sama-sama menggambar pemandangan gunung (gunung Bromo misalnya) akan menghasilkan dua lukisan yang berbeda." "Sama dengan seni beladiri," lanjut saya, "Dalam seni beladiri, dua orang ahli seni beladiri yang sama (misal seni beladiri X), tidak akan mungkin memiliki gerakan jurus ataupun waza (teknik) beladiri yang sama persis, karena itulah beladiri disebut seni, dan bukan ilmu."

Gambar dari pexels.com
"Kalau beladiri-nya sama, lalu kenapa gerakannya beda?" kembali keponakan saya bertanya. "Om gak bilang 'beda' lho, om bilangnya 'gak sama persis'," sahut saya, "Itu disesuaikan dengan gaya dan postur tubuh dari masing-masing orang, dalam beladiri itu disebut shu - ha - ri."

"Shu - ha - ri itu siapanya Suharto om?" [Oke, pertanyaan terakhir ini adalah karangan saya sendiri 😁].

Sayangnya, obrolan kami terhenti karena keponakan saya ini dipanggil oleh ayahnya untuk disuruh keluar membeli sesuatu.

[Kalau Anda penasaran apa itu suharto eh salah... shu - ha - ri, silakan baca postingan saya tentang shu - ha - ri: tiga tahap latihan seni beladiri].

Tetapi seandainya obrolan kami berlanjut, mungkin inilah yang akan ditanyakan oleh keponakan saya: "Terus bedanya ilmu dengan seni apa om?"

Ilmu adalah sesuatu yang bersifat pasti, misalnya 5 x 5 = 25 atau pasal 338 adalah pasal KUHP tentang pembunuhan, dan sebagainya; sedangkan seni sifatnya tidak pasti, misalnya dua orang penyanyi menyanyikan lagu yang sama, apakah nyanyian dua orang tersebut akan sama persis? Jawabannya tentu saja tidak. Mereka berdua akan menyesuaikan lagu tersebut dengan gaya dan kemampuan olah vokalnya, itulah sebabnya bernyanyi adalah seni suara bukan ilmu suara.

Tetapi ada kalanya ilmu dan seni akan saling bersinggungan.

Dalam dunia kedokteran misalnya, dua orang dokter yang praktek di dua tempat yang berbeda didatangi oleh seorang pasien dengan keluhan yang sama, setelah melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik (yang mungkin ditunjang pemeriksaan laborat, X-ray, USG, MRI, dan sebagainya), diagnosa kedua orang dokter tersebut 99% pasti akan sama. Itu adalah 'ilmu' kedokterannya, penyakit yang sama mempunyai gejala (subyektif = keluhan pasien dan obyektif = hasil pemeriksaan dokter) yang sama pula.

Lalu dimana letak 'seni'-nya? Dua orang dokter tersebut 99% akan memberikan pengobatan yang (sedikit) berbeda.

Kenapa 99% dan bukan 100%? Karena di dunia ini tidak ada yang pasti.


__________

Anda tentunya pernah mendapat pertanyaan seperti yang diajukan oleh keponakan saya ini bukan? Lalu apa jawaban Anda? Apakah sama dengan jawaban saya? Ataukah berbeda? Mari kita diskusikan bersama di kolom komentar dibawah.


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 2:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape

Blog Archive

Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB