Pariwara

Followers

Paradox Seni Beladiri (bag. 2): Belajar untuk Menjadi Bodoh

Posted by Yonatan Adi on 2:02 PM

Dalam seni beladiri modern Jepang (atau gendai budo), kita mengenal istilah "Dan" (kanji: ) yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti "tingkat". Tingkatan dan (yang biasanya ditandai dengan sabuk berwarna hitam) ini diraih setelah seseorang melalui tahap kyu (tahap sabuk berwarna). Tingkatan dan sendiri dibagi menjadi beberapa tahap (biasanya 1 - 9) dengan tahap yang paling rendah disebut dengan shodan (tingkat pertama atau tingkat dasar).

Baca juga: Warna Sabuk Beladiri, Sejarah dan Artinya

Menariknya, sistem tingkatan ini muncul pertama kali bukan dari seni beladiri melainkan dari permainan catur Jepang. Adalah Honinbou Dousaku (1645 - 1702), seorang pemain catur Jepang, yang pertama kali memperkenalkan sistem tingkatan tersebut. Sistem yang diperkenalkannya ini terinspirasi dari permainan catur tradisional Cina (atau weiqi) yang mana ada 9 tingkatan di dalamnya.

Sistem tingkatan tersebut dikenal dengan nama 9 Pin Zhi. 

    一曰入神 – 1 pin Penuh Semangat
    二曰坐照 – 2 pin Duduk Dalam Pencerahan
    三曰具体 – 3 pin Penuh Konsentrasi
    四曰通幽 – 4 pin Memahami perubahan
    五曰用智 – 5 pin Menerapkan Kebijaksanaan
    六曰小巧 – 6 pin Kemampuan
    七曰斗力 – 7 pin Kekuatan Bertarung
    八曰若愚 – 8 pin Menjadi tidak Punya potensi
    九曰守拙 – 9 pin Menjadi Bodoh


Dalam sistem tingkatan ini, 1 pin adalah tingkatan terendah, dengan 9 pin sebagai tingkatan tertinggi. Ini sama seperti dalam seni beladiri dimana tingkatan terendah adalah 1 dan (shodan), dengan tingkatan tertinggi 9 (atau 10) dan tergantung aliran seni beladiri-nya.

Tunggu dulu Yonatan-san, kalau 9 pin adalah tingkatan tertinggi, kenapa diartikan sebagai "menjadi bodoh" dan bukan "menjadi pintar"?

Kalau Anda bertanya seperti itu, terus terang saya juga tidak tahu jawabannya...


Beneran serius.

Kenapa saya tidak tahu? Karena saya tidak paham sama sekali dengan permainan catur tradisional Tiongkok.

Akan tetapi, meski tidak tahu persis jawabannya, saya bisa mengira-ngira kenapa tingkatan tertinggi dalam weiqi (dan seni beladiri) ini justru disebut "bodoh".

photo credit: Ivan via flickr
Dalam seni beladiri, seni yang sistem tingkatannya terinspirasi dari sistem tingkatan dalam weiqi ini, terdapat 3 tahapan utama yang kalau di bahasa Indonesia-kan kurang lebih adalah:

"tak berbentuk - berbentuk - tak berbentuk"

Saat pertama kali mulai berlatih, tentunya kita tidak tahu sama sekali bentuk maupun gerakan-gerakan dari seni beladiri yang bersangkutan (tahap "tak berbentuk" pertama). Setelah beberapa lama berlatih barulah kita sedikit demi sedikit mulai mengetahui bentuk dari gerakan-gerakan tersebut (tahap "berbentuk").

Lama-kelamaan, seiring dengan kemajuan latihan, kita pun akhirnya memahami (tidak hanya tahu) makna, arti, serta prinsip dan tujuan dari gerakan-gerakan tersebut. Dan karena sudah paham, kita pun mulai menyesuaikan (baca: mengubah) bentuk dari gerakan-gerakan tersebut dengan gaya dan postur tubuh kita.

Dan karena gaya dan postur tubuh setiap orang pastilah tidak sama, bentuk akhir (tahap "tak berbentuk" kedua) dari gerakan-gerakan tersebut juga pasti akan menjadi tidak sama persis (meskipun prinsip dan tujuan dari gerakan-gerakan itu pasti tetap sama).

Dan kalau dilihat sekilas (apalagi oleh orang awam), tahap "tak berbentuk" kedua ini akan terlihat jelek dan "bodoh" kalau dibandingkan dengan tahap "berbentuk".

Kenapa begicu... eh begitu?

Pada tahap "berbentuk", gerakan akan terlihat teratur dan rapi sekaligus kaku dan terlihat patah-patah (bukan goyang lho ya ;D). Sedangkan pada tahap "tak berbentuk" kedua, gerakan akan terlihat lebih 'berantakan' (meskipun juga terlihat lebih luwes dan mengalir). Sama seperti kalau Anda melihat tulisan seorang kaligrafer dalam seni kaligrafi Jepang, tahap "kaisho" akan terlihat jauh lebih rapi (dan lebih mudah dibaca) daripada tahap "sosho" yang terlihat seperti coretan-coretan dari seseorang yang baru belajar menulis.

Dan apa sebutan kita untuk orang yang baru mulai belajar sesuatu? Apa kita tidak menyebutnya "bodoh"?

Selain itu, semakin tinggi tingkatan kita dalam seni beladiri; atau dengan kata lain semakin banyak gerakan, jurus, waza (teknik, jutsu, atau apapun Anda menyebutnya) yang kita pelajari, semakin kita menyadari bahwa ternyata kita tidak tahu apa-apa dan masih harus banyak belajar (setidaknya saya sih begitu ;D).


Jadi, apa tujuan kita berlatih (dan belajar) mati-matian?

... untuk menjadi "bodoh".


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 2:02 PM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape

Blog Archive

Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB