Pariwara

Followers

Shoshin, Pola Pikir Seorang Pemula

Posted by Yonatan Adi on 5:49 PM

Apakah Anda seorang praktisi beladiri? Apakah Anda seorang gamer? Kalau iya, bisakah Anda menyebutkan persamaan antara latihan beladiri dan bermain game?

Ya, Anda benar, berlatih beladiri dan bermain game sama-sama menggunakan otak.

Tunggu dulu Yonatan-san, kalau berlatih beladiri itu menggunakan otak saya sudah tahu, tapi bermain game memakai otak? Bukannya bermain game itu hanya untuk senang-senang saja?

Eits... jangan salah, bermain game juga menuntut Anda untuk berpikir dan menggunakan otak Anda lho.

Semua permainan video game, selain membutuhkan koordinasi yang baik antara otak, mata, dan tangan, juga membutuhkan proses berpikir serta kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Salah satu contoh game yang "memaksa" Anda untuk berpikir keras adalah game besutan Nintendo dengan judul "Brain Age: Train Your Brain in Minute a Day!". Game yang terinspirasi dari penelitian Dr. Ryuta Kawashima di bidang neuroscience ini, menampilkan bermacam-macam variasi puzzle (termasuk diantaranya sudoku, stroop test, dan soal-soal matematika) yang dirancang untuk membantu menjaga bagian otak tertentu supaya tetap aktif.

Salah satu mode permainan dari game ini yang bernama Brain Age Check, memberi 3 teka-teki pada pemainnya untuk diselesaikan. Setelah berhasil menyelesaikan ketiga teka-teki tersebut, "umur" dari otak pemain akan dinilai. Semakin tinggi nilainya, semakin buruk performa dari si pemain. Nilai terbaik adalah 20--sesuai dengan teori Dr. Kawashima bahwa otak berhenti berkembang di usia 20 tahun, atau dengan kata lain, kinerja otak mencapai puncaknya pada usia 20 tahun.

Setelah usia 20 tahun, hanya ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi pada kinerja otak kita yaitu (1)tetap atau (2)mengalami kemunduran. Untungnya, dengan memainkan game "Brain Age: Train Your Brain in Minute a Day!" ini, Anda bisa melatih otak Anda untuk tetap berfungsi optimal layaknya di usia 20 tahun. Dengan memainkan game ini, meskipun usia "fisik" Anda 30 tahun misalnya, Anda bisa "menghentikan" pertambahan umur otak Anda tetap di angka 20.

Image credit: GraphicMama-team
Teori dari Dr. Kawashima ini mengingatkan saya pada sebuah konsep dari Zen Budhisme yang disebut sebagai "shoshin" yang secara garis besar berarti "pikiran pemula".

Konsep ini merujuk pada keterbukaan, antusiasme, serta ketertarikan yang besar saat mempelajari suatu hal kendati hal tersebut sudah pernah kita pelajari di level pemula (atau di level yang lebih rendah)--dan kita pelajari kembali saat level kita (baik secara usia, pengetahuan, maupun kemampuan) sudah lebih tinggi--sama seperti saat kita masih pemula. Dan karena sebagian besar budo (seni beladiri) di Jepang berkembang dari ajaran Zen Budhisme, konsep ini pun juga bisa ditemukan dalam budo.

Salah satu contoh dari konsep shoshin ini adalah seorang yudansha (sabuk hitam) yang dengan hati terbuka, senang, dan antusias mau berlatih kihon bersama dengan kohai-nya.

Untungnya, di seni beladiri yang saya dalami, yaitu Shorinji kempo [dan pastinya juga di aliran seni beladiri lain], kihon adalah salah satu bagian dari latihan. Setiap sesi latihan selalu diawali dengan kihon [yang tentu saja didahului dengan pemanasan, pengucapan janji dan ikrar, serta chinkon gyo].

Sayangnya, saya sering melihat seorang yudansha (terutama tingkat shodan dan nidan) yang tidak mau berlatih kihon bersama dengan kohai-nya. Kalaupun mau, mereka terlihat ogah-ogahan dan kurang bersemangat. Para yudansha yang salah jalan ini ;D hanya terlihat bersemangat saat berlatih teknik waza tingkat tinggi. Mereka lupa bahwa teknik tingkat tinggi "hanyalah" perkembangan dari gerakan-gerakan kihon.

Sayang sekali kalau tingkatan kita sudah tinggi tetapi tidak mau lagi berlatih kihon (yang menurut saya justru kebalikannya; semakin tinggi tingkatan kita, kita harus semakin banyak berlatih kihon, bahkan lebih banyak daripada kohai kita yang tingkatannya lebih rendah).

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.

Intinya adalah setinggi apapun tingkatan Anda, jangan pernah bosan untuk terus berlatih, walaupun latihan tersebut terlihat sepele dan "hanya" cocok untuk seorang pemula. Di Jepang sana, para master beladiri sepuh (bahkan ada yang berusia diatas 80 tahun!!) yang bergelar hanshi (setingkat di bawah shihan atau guru besar) sekalipun masih mau melakukan pemanasan, kihon, serta berlatih bersama dengan murid-muridnya. Kita mah apa atuh? 😁

Ingat bahwa tingkatan Anda dalam seni beladiri tidak menggambarkan kehebatan Anda [kecuali tingkatan Anda sensei atau hanshi, yang tentu saja lain lagi ceritanya--meskipun saya mengenal seorang sensei yang tetap berlatih kihon setiap hari]. Kehebatan atau kemampuan beladiri Anda tidak Anda dapatkan dari sabuk yang Anda pakai, kemampuan tersebut Anda dapatkan dari latihan, latihan, dan latihan (serta latihan).

Saya tutup postingan ini dengan sebuah quote yang sangat luar biasa: "Kendati usia Anda terus bertambah, tetap pertahankan usia otak Anda di angka 20. Meskipun tingkatan Anda dalam seni beladiri sudah tinggi, tetap pertahankan pola pikir Anda seperti halnya seorang minarai" ~ sensei Yonatan ;p


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 5:49 PM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape

Blog Archive

Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB