Pernahkah Anda mendengar seseorang mengucapkan 'ossh'?
Tentunya pernah dong ya.
Tentunya pernah dong ya.
Anda mungkin pernah melihat (mendengar)-nya di anime-anime atau mungkin membacanya di komik-komik Jepang, dan kalau Anda saat ini sedang mempelajari salah satu aliran seni beladiri asal Jepang, Anda tidak hanya akan sering mendengarnya tetapi juga mengucapkannya. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya apa sih arti sebenarnya dari kata 'ossh' (ditulis osu) tersebut?
Di kalangan praktisi beladiri, 'osu' ini merupakan kata yang paling sering diucapkan; dan yang menarik artinya bisa bermacam-macam mulai dari 'baik', 'siap', 'iya', 'permisi', 'selamat pagi', 'selamat malam', 'saya mengerti', bahkan digunakan untuk menunjukkan rasa sakit ketika terkena pukulan, tendangan, ataupun kuncian.
Tetapi tahukah Anda apa arti sebenarnya dari 'osu' dan dari mana kata ini berasal?
Osu (kanji: 押忍) terdiri atas dua karakter huruf kanji yaitu:
- "o/ oshi" (押) yang berarti menekan, tekanan; dan
- "shinobu" (忍) yang berarti bertahan
Osu sering sekali diucapkan tidak hanya dalam latihan seni beladiri (terutama yang berasal dari Jepang seperti karate, judo, dan kendo), tetapi juga di dalam pertandingan olahraga yang cenderung 'kasar' dan agresif serta 'laki banget' seperti football dan baseball.
Itulah sebabnya di Jepang sana istilah ini kurang populer di kalangan perempuan, mereka kurang nyaman mengucapkannya karena osu adalah kata yang menggambarkan kesan "kasar" dan maskulin. Karena itu ada beberapa dojo beladiri di Jepang yang memperbolehkan (bahkan ada yang mengharuskan) perempuan untuk tidak mengucapkan kata osu ini.
Dengan semakin populernya seni beladiri Jepang di dunia, istilah osu juga ikut populer, tetapi sayangnya budaya bahwa kata ini menggambarkan "kejantanan" tidak ikut populer.
Lantas dari mana istilah osu ini berasal?
Ada beberapa teori tentang asal-usul dari kata ini, tetapi untuk postingan ini saya hanya akan menjelaskan dua saja diantaranya yang paling populer.
#1. Teori kyokushin.
Kyokushin adalah olahraga beladiri full contact, karena itu tubuh praktisinya harus dikondisikan untuk "tahan pukul". Pengkondisian tersebut membutuhkan latihan yang sangat berat serta daya tahan fisik dan mental yang kuat.
Untuk melatih gerakan dasar saja dibutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya. Kita mungkin akan merasa bosan karena harus mengulangi gerakan yang itu-itu saja ratusan bahkan ribuan kali, benturan-benturan fisik dengan rekan latihan adalah menu wajib, dan tubuh kita dipaksa untuk berlatih melebihi batas kemampuannya.
Para praktisi kyokushin tentunya mengenal kalimat "osu no seishin" yang berarti bertahan meskipun dalam tekanan. Dengan mengucapkan 'osu', mereka diingatkan secara verbal untuk selalu bertahan dari kesulitan/ kebosanan dan untuk terus berlatih guna melampaui batas-batas kemampuan mereka.
#2. Teori Angkatan Laut Jepang.
#2. Teori Angkatan Laut Jepang.
Prajurit angkatan laut, seperti halnya prajurit angkatan darat dan udara, tentunya dididik untuk melakukan segala sesuatunya dengan cepat dan efisien. Makan, minum, mandi, dan juga aktivitas-aktivitas yang lain harus dilakukan dalam waktu yang sesingkat dan seefisien mungkin, termasuk menjawab perintah dan atau mengucapkan salam.
Photo credit: skeeze/ pixabay |
Lama-kelamaan istilah "osu" ini tidak hanya dipakai untuk menggantikan ucapan selamat pagi saja tetapi juga dipakai untuk mengucapkan selamat siang dan selamat malam, dan pada akhirnya dipakai juga untuk menjawab perintah, baik untuk menyatakan persetujuan ataupun tidak
Mungkin Anda bertanya-tanya kenapa hanya ada satu kata "osu" untuk jawaban ya/ tidak. Untuk memahami hal ini kita perlu memahami budaya beladiri dan juga budaya bushido yang ada di Jepang.
Dengan kata lain, tidak ada jawaban "tidak" dalam bushido.
Sekarang, yang menjadi pertanyaan adalah kapan kita boleh atau tidak boleh mengucapkan osu?
Kita sudah tahu bahwa sebenarnya 'osu' adalah istilah yang "kasar", kalau dengan orang yang sudah akrab sih tidak apa-apa kita mengucapkannya, tetapi jangan pernah mengucapkan kata 'osu' ini pada orang yang lebih tua usianya atau yang lebih tinggi status sosialnya daripada kita, dan kalau Anda perempuan akan lebih baik kalau Anda tidak mengucapkannya sama sekali.
Bagaimana kalau pelatih beladiri saya menyuruh saya untuk mengucapkan osu?
Turuti pelatih Anda, karena kalau Anda tidak menurut itu sama saja dengan tidak menghormati beliau.
Setuju dengan saya? Atau mungkin Anda punya pendapat lain?
0 komentar:
Post a Comment