Pariwara

Followers

Tipe Praktisi Beladiri yang Nggak Gue Banget

Posted by Yonatan Adi on 12:40 PM

Sebagai seorang manusia (sekaligus praktisi beladiri), saya (dan juga Anda para pembaca setia Goblog), pastinya mempunyai semacam self-rule atau aturan yang kita buat untuk diri kita sendiri yang membuat kita merasa "gimana gitu" kalau melanggarnya.

Salah satu "aturan" yang saya terapkan pada diri saya sendiri adalah: "Saya harus lebih baik daripada orang lain yang tidak belajar beladiri", yang mana aturan tersebut membuat saya selalu berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.

Tetapi sayangnya tidak semua praktisi beladiri seperti itu, ada juga praktisi beladiri yang kelakuannya tidak berbeda (baca: tidak lebih baik) dari orang awam. Nah, di postingan ini saya akan menuliskan beberapa kelakuan praktisi beladiri yang kurang "pas" menurut pendapat saya, atau kalau kata kids jaman now: "Ngga gue banget". 

Photo creditjohnhain
#1. Mereka yang menganggap seni beladirinya adalah yang paling hebat
Fanatik sih boleh-boleh saja, tapi Anda tahu? tidak ada seni beladiri yang paling hebat, yang ada adalah praktisi beladiri yang paling hebat. Segala sesuatu tergantung pada orangnya.

Dan hal ini tidak hanya berlaku dalam seni beladiri saja.

Dua orang dokter belum tentu punya tingkat kepandaian dan keahlian yang sama, itu semua tergantung pada kemauan mereka untuk terus belajar dan meningkatkan keahliannya. Demikian pula dalam bisnis, politik, pemerintahan, gelar sarjana, dan lain sebagainya.

Semua tergantung pada manusianya.

#2. Mereka yang selalu memamerkan sabuk dan atau tingkatannya
Sabuk dan atau tingkatan tidak menentukan kehebatan seseorang. Latihan dan latihan (serta latihan) itulah yang menentukan 'kehebatan' kita.

Apakah seorang sabuk hitam pasti bisa mengalahkan seorang sabuk coklat dalam pertandingan? Belum tentu. Bisa saja si coklat yang menang (apabila si coklat berlatih lebih keras daripada si hitam).

Karena itu, setinggi apapun tingkatan/ sabuk Anda, jangan pernah berhenti berlatih.

#3. Mereka yang menyebut dirinya sendiri dengan sebutan sensei
Kalau Anda melihat banyak forum seni beladiri di internet, Anda akan menemukan banyak sekali orang yang menyematkan 'gelar' sensei di depan atau di belakang namanya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, bolehkah kita melakukan hal itu? Boleh-boleh saja sih, tetapi hal itu sangatlah tidak pantas.

Seni beladiri itu mengajarkan kerendahan hati. Lagi pula 'gelar' sensei bukanlah sebuah gelar. Sensei adalah panggilan kehormatan yang kita berikan kepada seseorang yang kita anggap sebagai seseorang yang 'telah lebih dahulu menjalani kehidupan' daripada kita ("sen - sei" secara harfiah berarti "lebih dulu - hidup").

[Kalau dalam kehidupan sehari-hari, mungkin 'gelar' sensei ini sama dengan 'gelar' tuan. Hanya orang lain saja yang mungkin akan memanggil saya tuan Yonatan, tapi saya tidak akan mungkin menyebut diri saya sendiri dengan sebutan tuan Yonatan.]

Sensei adalah bentuk penghormatan untuk semua pengetahuan dan pengalaman yang telah dikumpulkan oleh seseorang dalam 'perjalanannya' menuju 'tempat' yang juga sedang kita tuju.

#4. Mereka yang 'anti' dengan kihon
Banyak praktisi beladiri (setidaknya yang saya kenal) yang menganggap kihon adalah latihan yang membosankan (dan memang benar sih kalau kihon itu membosankan ;p) dan melewatkan kihon untuk berlatih teknik yang lebih tinggi (dan lebih tidak membosankan).

Mereka lupa bahwa teknik 'tingkat tinggi' hanyalah perkembangan dari teknik-teknik kihon saja. Dengan berlatih kihon secara berulang-ulang (dan terus menerus), badan akan menghapal gerakan-gerakan tersebut dan akan bereaksi secara alami saat dibutuhkan.

Dan tahukah Anda bahwa (menurut saya) semakin tinggi dan semakin rumit sebuah teknik, semakin kecil kemungkinan teknik tersebut akan Anda gunakan dalam perkelahian yang sebenarnya?

#5. Mereka yang mempelajari bermacam-macam aliran seni beladiri
Saya nggak anti dengan cross training, tetapi kebanyakan orang salah dalam melakukan cross training.

Karena ingin segera bisa menjadi 'hebat', banyak orang mempelajari lebih dari satu aliran seni beladiri sekaligus. Nggak keliru sih, tapi coba bayangkan Anda mengajarkan dua bahasa pada anak Anda yang baru belajar bicara.

Seperti yang pernah saya bahas disini, akan lebih baik kalau Anda mempelajari satu aliran seni beladiri sampai paling tidak Anda benar-benar menguasai dasar-dasarnya, setelah itu barulah berpikir untuk mempelajari seni beladiri lain.

#6. Mereka yang menganggap suatu aliran seni beladiri (yang tidak dipelajarinya) lebih komplet atau lebih hebat daripada aliran seni beladiri lain (yang tidak dipelajarinya juga)

Ini sih pernah saya alami. Seseorang yang belajar seni beladiri A mengatakan pada saya bahwa seni beladiri yang saya pelajari (Shorinji kempo, kalau Anda ingin tahu) lebih komplet dan lebih hebat daripada seni beladiri B.

Kehebatan seseorang dalam seni beladiri bukan ditentukan oleh seni beladiri apa yang dipelajarinya, melainkan oleh kesungguhan orang tersebut dalam berlatih.

Sangat lucu (menurut saya) untuk mengklaim bahwa seni beladiri yang kita pelajari lebih hebat daripada seni beladiri lain; dan lebih lucu lagi (menurut saya) kalau kita belajar seni beladiri A tapi mengatakan pada orang lain yang belajar seni beladiri B bahwa seni beladiri B lebih hebat daripada seni beladiri C. Hal itu sama saja (lagi-lagi menurut saya) dengan berkata kalau seni beladiri A jauh lebih hebat daripada seni beladiri B dan C. 

*bergidik*... sepertinya ada yang mengawasi saya [photo credit: Chraecker]
... karena saya menulis postingan ini di kantor, dan sepertinya HRD saya sedang memperhatikan saya, kita percepat saja ya...

#7. Mereka yang menganggap dojo hanya sebagai tempat berlatih teknik-teknik beladiri sahaja

#8. Mereka yang beranggapan bahwa berlatih beladiri seminggu sekali itu sudah cukup

#9. Mereka yang rajin berlatih hanya karena mau ikut ujian kenaikan tingkat atau mau mengikuti kejuaraan saja (hayo ngaku ;D)

#10. Mereka yang memandang latihan beladiri hanya sebagai aktivitas olahraga biasa

#11. Mereka yang berlatih tidak dengan sepenuh hati

#12. Mereka yang 'menguasai' suatu teknik beladiri akan tetapi tidak memahami esensi ataupun prinsip-prinsip dibaliknya

#13. Mereka yang selalu terlambat datang latihan

#14. Mereka yang datang ke dojo lebih awal dari saya

#15. Mereka yang tingkatannya lebih tinggi daripada saya, padahal saya sudah lebih lama bergabung dan berlatih dalam seni beladiri tersebut

#16. Mereka yang membuat daftar tipe praktisi beladiri yang katanya gak mereka banget

#17. Mereka yang tidak setuju dengan daftar yang saya buat ini

Itulah dia beberapa tipe praktisi beladiri yang tidak saya sukai (kenapa poin nomor 14-17 ndak bisa dihapus ya??). Postingan ini memang lebih tepat kalau diberi judul "Tipe Praktisi Beladiri yang Tidak Saya Sukai", tetapi "Tipe Praktisi Beladiri yang Nggak Gue Banget" terdengar lebih keren (lagian ini kan blog saya ;p).

Anda setuju dengan saya?

Oh iya satu lagi, postingan ini saya maksudkan hanya sebagai hiburan semata, jangan tersinggung, apalagi nggak dimasukkan hati lho ya... 😉


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 12:40 PM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape

Blog Archive

Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB