Pariwara

Followers

10 Fakta tentang Olahraga Sumo yang Mungkin Belum Anda Ketahui

Posted by Yonatan Adi on 11:30 AM

Anda pastinya tahu olahraga gulat sumo bukan? Anda mungkin berpikir bahwa sumo hanyalah pertandingan gulat antara dua orang laki-laki gemuk yang memakai "popok", yang bergulat di dalam sebuah dohyo (ring) yang berbentuk bulat.

Pendapat tersebut mungkin memang ada benarnya, tetapi sumo bukan sekedar pertandingan gulat biasa. Sumo, yang merupakan salah satu olahraga nasional Jepang ini, ternyata menyimpan banyak misteri yang tidak diketahui bahkan oleh orang Jepang sendiri.
Photo credit: J. Drevet
Berikut ini adalah beberapa fakta tentang olahraga sumo yang mungkin belum Anda ketahui:
 
#1. Sumo adalah bagian dari ritual keagamaan
Sumo adalah salah satu olahraga tertua di dunia--sudah ada sejak 1500 tahun yang lalu. Pada awalnya sumo adalah bagian dari ritual keagamaan agama shinto, dimana manusia 'bergulat' dengan kami (dewa shinto). Dohyo (ring sumo) bisa ditemukan di banyak kuil di Jepang. 

Hubungan antara sumo dengan shinto masih bisa dilihat sampai dengan sekarang. Wasit dalam pertandingan sumo bertindak sebagai 'pendeta shinto', yang mana sebelum memimpin pertandingan mereka akan melakukan semacam ritual untuk mengusir roh jahat dari ring. Para pegulat sumo sendiri selalu menebarkan garam ke dalam dohyo setiap kali akan bertanding dengan maksud untuk 'memurnikan' tempat pertandingan mereka tersebut. 

Bahkan, 'atap' di atas dohyo juga dibuat menyerupai atap kuil, sehingga dohyo ini dianggap sebagai tempat yang suci.
 
#2. Peraturan pertandingan
Pertandingan sumo tidak akan dimulai sebelum kedua pegulat meletakkan kedua tangannya di atas tanah secara bersamaan. Hal ini sering dimanfaatkan oleh para pegulat untuk merusak konsentrasi lawan tandingnya dengan cara berpura-pura hendak meletakkan tangannya sebelum berdiri kembali. 

Begitu dimulai, pertandingan sumo biasanya hanya berlangsung beberapa detik saja (walaupun bisa juga berlangsung selama beberapa menit). Pertandingan dianggap berakhir bila salah satu pegulat terlempar keluar dari dohyo atau salah satu anggota badannya (kecuali telapak kaki) menyentuh tanah.

Uniknya pertandingan juga bisa berakhir bila salah seorang pegulat kehilangan mawashi atau cawat yang dipakainya dimana pegulat yang 'telanjang' tersebut akan terkena diskualifikasi. Walaupun kejadian ini sangat jarang terjadi, pada sebuah pertandingan di bulan Mei tahun 2000, seorang pegulat bernama Asanokiri 'tertelanjangi' oleh lawannya dan langsung terkena diskualifikasi. 

Anda bisa melihat serunya sebuah pertandingan sumo pada video dibawah ini (sumber: channel YouTube joliker76). 


#3. Wasit dan bunuh diri
Wasit adalah orang yang paling dipuja sekaligus dibenci dalam setiap pertandingan olahraga, apapun cabang olahraganya. Kenapa? Karena keputusan yang diambil oleh seorang wasit akan sangat menentukan hasil dari pertandingan. Pengambilan keputusan yang salah satu kali saja bisa mengubah segalanya.

Tetapi seburuk apapun keputusan yang diambil, jarang sekali yang sampai mengakibatkan konsekuensi serius bagi sang pengadil lapangan tersebut (paling-paling cuma dilempari botol oleh suporter atau dipukuli pemain :D). 

Hal yang berbeda akan Anda temui dalam sumo. Wasit sumo (disebut gyoji) selalu mempertaruhkan kehormatannya dalam setiap keputusan yang mereka ambil. Wasit dalam pertandingan sumo senantiasa membawa tanto (pisau kecil) sebagai simbol kalau mereka siap melakukan seppuku (bunuh diri dengan cara membelah perut) bila mereka sampai salah mengambil keputusan. 

Walaupun belum pernah ada gyoji yang sampai melakukan seppuku, seorang gyoji akan langsung mengajukan surat pengunduran diri apabila salah mengambil keputusan dalam suatu pertandingan.

#4. Kehidupan keras seorang pegulat sumo
Walaupun berbadan 'gemuk', jangan dikira bahwa seorang rikishi (pegulat sumo) adalah orang yang kerjanya bermalas-malasan. Mereka menjalani latihan yang sangat keras setiap harinya. Seorang rikishi menjalani hidup sehariannya di sebuah tempat yang disebut 'sumobeya'. Mereka makan, tidur, dan berlatih di tempat tersebut sepanjang karir ber-sumo mereka. 

Hampir sama dengan seni beladiri yang lain, hierarki sangat dipegang teguh dalam sumo. Di dalam sumobeya, pegulat paling junior adalah yang paling 'menderita'. Mereka harus bangun paling awal untuk mencuci pakaian serta memasak untuk para seniornya, mereka juga harus mandi paling akhir, dan baru diperbolehkan makan setelah para seniornya selesai makan. 

Para junior ini juga seringkali di-bully oleh seniornya dengan alasan untuk memperkuat fisik dan mental mereka. Tidak jarang pem-bully-an ini kebablasan sehingga menyebabkan cedera dan bahkan--dalam kasus yang sangat jarang--kematian.

#5. Pegulat sumo harus memakai pakaian tradisional
Dengan alasan kedisiplinan, pegulat sumo bahkan tidak diperbolehkan untuk memilih sendiri pakaian yang akan dikenakannya. 

Segera setelah bergabung dalam sebuah sumobeya, seorang pegulat sumo diwajibkan untuk memanjangkan rambut sehingga rambutnya bisa diikat membentuk chonmage, yaitu gaya rambut mirip para samurai di jaman Edo.
Photo credit: FourTildes
Mereka juga diharuskan untuk selalu mengenakan pakaian tradisional Jepang (yukata) dan gaya rambut chonmage ini di muka umum. Karena gaya mereka yang khas ini (selain karena ukuran tubuhnya yang 10 kali lebih besar dari orang kebanyakan) Anda akan mudah sekali menemukan seorang pesumo di tempat umum.

#6. Pegulat sumo bahkan dilarang bertingkah laku semaunya sendiri
Selain gaya fashion, seorang pesumo juga mempunyai aturan tersendiri dalam bertingkah laku. Mereka harus selalu bertutur kata serta bertingkah laku lembut dan sopan di muka umum. 

Di dalam pertandingan sumo, seorang pesumo juga dilarang keras untuk menunjukkan ekspresi kegembiraan saat meraih kemenangan ataupun menunjukkan rasa kecewa saat mengalami kekalahan.

#7. Orang asing boleh ikut ber-sumo
Tidak semua pesumo adalah orang Jepang asli. Walaupun terdapat aturan satu orang asing (disebut gaijin) untuk satu sumobeya, orang asing juga diperbolehkan untuk ber-sumo ria. Tetapi ada syaratnya, para gaijin ini diharuskan lancar berbahasa Jepang serta harus mengerti budaya dan tradisi Jepang.

#8. Seorang pesumo tidak selalu 'gemuk'
Image seorang pesumo yang berbadan gemuk sebenarnya baru muncul pada abad ke-20. Pesumo jaman baheula biasanya berbadan kurus tetapi kuat dan terlihat berotot.

Hal ini disebabkan tidak adanya pembagian kelas berdasarkan berat badan pada pertandingan sumo profesional, sehingga setiap pesumo ingin menjadi sebesar mungkin agar bisa menggunakan berat badannya sebagai 'senjata' di dalam ring.

Salah satu pengecualian adalah Shuntaro Takanoyama, seorang pegulat sumo asal Ceko yang dikenal sebagai 'skinny sumo'. Dengan tinggi badan 187 cm dan berat 'hanya' 98 kg, Shuntaro tergolong kecil untuk ukuran seorang pesumo (bandingkan dengan Akebono Taro, 203 cm dan 223 kg). Walaupun berbadan 'kecil', Shuntaro mempunyai prestasi yang nggak main-main, doski bahkan meraih peringkat maegashira pada tahun 2011.
Takanoyama Shuntaro, "skinny sumo" (Photo credit: FourTildes)
Tubuh 'raksasa' ini didapatkan dari diet serta gaya hidup seorang pesumo dalam sumobeya. Pesumo memulai latihannya pada waktu fajar dengan keadaan perut kosong. Sekitar tengah hari mereka berhenti berlatih untuk makan. Menu makan mereka adalah campuran daging, sayuran, dan nasi yang disebut chankonabe.

Porsi makan para pesumo ini sangat gila-gilaan, mungkin orang biasa sudah muntah karena kewaregen (terlalu kenyang) bila makan dengan porsi mereka. Setelah itu mereka akan tidur siang sampai menjelang makan malam untuk kembali menyantap chankonabe sebelum tidur malam.

#9. Untuk saat ini tidak ada pesumo asli Jepang yang meraih gelar yokozuna
Yokozuna adalah tingkatan tertinggi dalam olahraga sumo (sama seperti sabuk merah pada judo). Selama bertahun-tahun gaijin tidak diperbolehkan memegang gelar yokozuna sampai pada tahun 1993 seorang pesumo asal Hawaii bernama Chadwick Haheo Rowan (dengan nama ring Taro Akebono) menjadi gaijin pertama yang mendapatkan gelar yokozuna.

Walaupun jumlah pesumo asing sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah pesumo asli Jepang, tiga orang yokozuna yang aktif saat artikel ini ditulis semuanya berasal dari luar Jepang (Mongolia). 

Tapi tidak hanya pesumo-nya saja, gyoji juga mempunyai tingkatan yang ditandai dengan warna baju tradisional yang mereka pakai saat memimpin pertandingan. Tingkatan gyoji tertinggi diberi gelar Kimura Shonosuke, tetapi berbeda dengan yokozuna, gelar ini hanya boleh dipegang oleh satu orang saja sampai orang tersebut pensiun. 
Akebono Taro, gaijin pertama yang meraih gelar yokozuna (Photo credit: Philbert Ono)
#10. Tidak ada sumo wanita
Seperti halnya cabang olahraga lain dimana nomor putra selalu lebih populer daripada nomor putri (kecuali mungkin voli pantai ;p), sumo pun juga begitu. Akan tetapi sumo lebih 'kejam'. Tidak hanya melarang wanita untuk ikut berpartisipasi, olahraga sumo juga melarang seorang wanita memasuki ring karena dianggap 'mengotori' kesucian ring.

Pernah terjadi sedikit kegegeran ketika Fusae Ohta, gubernur wanita Osaka yang menjabat tahun 2000-2008, dilarang memasuki ring untuk mempersembahkan hadiah kepada pemenang.

Tetapi tidak selamanya sumo kejam kepada wanita. Pada abad ke-18 terdapat semacam pertandingan sumo wanita di beberapa wilayah di Jepang. Walaupun sebagian besar hanya sebagai hiburan, beberapa diantaranya memegang peran penting dalam ritual keagamaan shinto. Sekarang ini pertandingan sumo profesional wanita dilarang dan hanya diperbolehkan untuk tingkat amatir saja.


__________

Itulah dia 10 fakta tentang olahraga sumo yang mungkin belum Anda ketahui.

Lain kali kalau Anda ingin menertawakan sumo dan para pegulatnya ingatlah bahwa sumo adalah olahraga yang keras dan serius serta membutuhkan kedisiplinan tingkat tinggi yang mungkin tidak akan mampu Anda dan saya lakukan. 

Semoga bermanfaat.
  


Sumber:


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 11:30 AM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape

Blog Archive

Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB