Pariwara

Followers

Paradox Seni Beladiri

Posted by Yonatan Adi on 7:12 PM

Memukul, menendang, membanting, dan mengunci adalah beberapa kata yang bisa merangkum aspek fisik dari apa yang kita kenal sebagai seni beladiri.

Sekarang saya minta Anda berhenti sejenak membaca postingan ini. Coba Anda pergi keluar rumah dan tanyakan pendapat dari siapapun yang Anda temui pertama kali tentang orang yang sukanya memukul, menendang, membanting, dan mengunci. Pendapat mereka (orang yang Anda tanyai) hampir bisa dipastikan 101% adalah... orang tersebut (yang suka memukul, menendang, membanting, dan mengunci) adalah orang gila, sadis, atau orang yang menyukai kekerasan.

Tetapi tunggu dulu... bukankah memukul, menendang, membanting, dan mengunci adalah 'aktivitas' yang selalu Anda lakukan saat berlatih seni beladiri? Apakah itu berarti berlatih seni beladiri itu gila dan sadis? Atau dengan kata lain apakah Anda (yang berlatih seni beladiri) adalah orang yang gila, sadis, dan suka kekerasan?

Jawabannya tentu saja "tidak."

Tapi sayangnya itulah yang menjadi pendapat banyak orang, bahwa seni beladiri mengajarkan kekerasan, bahwa seni beladiri yang mengajarkan 'kekerasan yang terkontrol' dianggap lebih 'sadis' daripada olahraga lain seperti sepak bola misalnya dimana adegan memukul, menendang, membanting, dan mengunci* kadang juga sering terjadi walaupun secara spontan dan 'nggak disengaja'. Benarkah memang seperti itu? Sekali lagi tentu saja "tidak."

Anda perlu bukti?

Menurut Wikipedia, seni beladiri adalah satu kesenian yang timbul sebagai satu cara seseorang untuk mempertahankan atau membela dirinya. Jadi seni beladiri adalah suatu bentuk seni yang digunakan untuk membela diri BUKAN untuk melakukan kekerasan.

Masih kurang yakin?

Saya mengenal banyak praktisi/ seniman seni beladiri, dan mereka semua adalah orang-orang yang paling sopan, paling santun, dan paling low profile yang pernah saya kenal.

Ah... itu kan pendapat agan, bisa saja agan bohong.

Ok, mari kita lihat bukti lain. 

Karena seni beladiri yang sedang saya pelajari berasal dari Jepang, saya akan mengambil contoh dari situ. Kalau Anda masih menganggap bahwa seni beladiri itu sama dengan kekerasan, tentunya orang-orang darimana seni beladiri tersebut berasal--dalam contoh saya orang Jepang--adalah orang-orang barbar, tidak berbudaya, dan suka dengan kekerasan.

Tetapi kenyataannya sangat lain, orang Jepang adalah orang yang paling tertib dan paling sopan di dunia. Bahkan, menurut cerita seorang teman yang pernah berkunjung ke Jepang, dalam keadaan mabuk saja orang-orang Jepang masih bisa bilang "sumimasen" (permisi).

Kalau Anda perlu bukti dan penasaran silakan Anda baca artikel yang sangat menarik tentang tatakrama orang Jepang hasil tulisan Deni Suryana. 

Bagaimana mungkin orang-orang seperti itu melahirkan seni beladiri (yang bahkan banyak diantaranya mendunia) yang --katanya-- mengajarkan kekerasan?

Photo credit: brett jordan
Lalu buat apa berlatih seni beladiri kalau tidak untuk berkelahi atau untuk melakukan kekerasan?

Seni beladiri justru mengajarkan jalan damai kepada para praktisinya. 

Kok aneh? 

Itulah yang saya sebut sebagai 'paradox seni beladiri'.

[Bacaan terkait: Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Beladiri]


__________

Saya tutup postingan saya ini dengan percakapan antara seorang murid dengan guru beladirinya (sengaja saya tulis dalam bahasa Inggris biar kelihatan pinter ;D).

Student: "Sensei, you teach me how to fight but you talk about peace. How do you reconcile the two?"
Sensei: "It is better to be a warrior in a garden then to be a gardener in a war"


---------- 

* saya harusnya dapat hadiah payung cantik karena menyebutkan kata memukul, menendang, membanting, dan mengunci sebanyak 5... eh 6 kali ding hehe.


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 7:12 PM

0 komentar:

Post a Comment

Copyscape

Protected by Copyscape

Blog Archive

Powered by Blogger.

Paling Dilihat

CB